Media Sosial, Kekosongan Ruhani, dan Kecemasan Eksistensial: Membaca Temuan Riset dari Perspektif Ustad Burhan Bin Hasan

SalikMediaOnline — Sebuah studi terbaru dari Italia kembali menegaskan bahwa kecanduan media sosial tidak dapat dipahami hanya sebagai masalah perilaku digital. Riset tersebut menemukan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan erat dengan kesepian, kecemasan eksistensial, dan rasa takut ditinggalkan—suatu rangkaian kondisi psikologis yang saling bertaut dan membentuk pola ketergantungan pada dunia maya.

Penelitian berjudul “Attachment Anxiety, Loneliness, and Death Anxiety in Problematic Social Media Use” yang dipimpin Dr. Alessandro Musetti dari Universitas Parma menunjukkan bahwa individu dengan attachment anxiety—kecemasan terhadap keterikatan—memiliki kecenderungan lebih besar untuk merasakan keterasingan emosional dan kecemasan akan kematian. Dua faktor ini, menurut analisis para peneliti, menjadi jembatan yang memperkuat potensi kecanduan media sosial.

Musetti menjelaskan bahwa mereka yang cemas akan ditinggalkan biasanya mencari jaminan emosional secara terus-menerus. Media sosial kemudian menjadi ruang virtual untuk merasa diperhatikan: tempat mengunggah jejak diri, mencari komentar, dan meraih validasi. Namun, ruang itu hanya menyediakan bentuk keterhubungan yang bersifat semu dan instan.

Kesepian, Keterputusan, dan “Keabadian Simbolik”

Model statistik penelitian tersebut mengungkap bahwa bentuk kesepian tertentu—khususnya relational disconnectedness atau keterputusan dari hubungan intim—berperan besar dalam meningkatkan kecemasan akan kematian. Ketika seseorang merasa tidak memiliki kedekatan emosional yang sejati, rasa takut akan kefanaan meningkat. Dalam kondisi itulah media sosial sering dijadikan pelampiasan.

Para peneliti bahkan menyoroti fenomena yang disebut sebagai “keabadian simbolik”—upaya manusia untuk meninggalkan jejak yang dapat bertahan di ruang digital. Unggahan, foto, arsip percakapan, atau profil online berfungsi sebagai simbol keberadaan yang diharapkan tidak lenyap meski waktu terus berjalan.

Temuan ini selaras dengan Terror Management Theory (TMT) yang menyatakan bahwa manusia mengatasi ketakutan terhadap kematian dengan mencari makna, identitas, dan warisan simbolis. Media sosial, dengan kemampuan menyimpan jejak digital, menawarkan pilihan cepat untuk memenuhi dorongan tersebut.

Perspektif Ustad Burhan Bin Hasan: Media Sosial dan Kekosongan Ruhani

Menanggapi temuan ini, Ustad Burhan Bin Hasan menilai bahwa fenomena tersebut tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi mencerminkan dinamika ruhani dan sosial manusia modern.

Menurutnya, kebutuhan akan validasi yang tak kunjung terpenuhi merupakan tanda bahwa manusia kehilangan jangkar batinnya. “Media sosial seringkali menjadi pelabuhan sementara bagi jiwa yang haus akan penerimaan, namun tidak memiliki kedekatan yang nyata—baik dengan sesama maupun dengan Tuhan,” ujarnya.

Dalam pandangannya, kecemasan keterikatan yang ditemukan dalam penelitian mirip dengan kegelisahan ruhani ketika seseorang tidak merasakan kehadiran kasih sayang yang stabil dalam hidupnya. Islam mengajarkan tsiqah—kepercayaan diri yang bersumber dari keyakinan bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan dan kasih sayang Allah. Ketenteraman batin semacam ini tidak bisa digantikan oleh like, komentar, atau perhatian digital apa pun.

“Ketika struktur batin seseorang rapuh,” lanjutnya, “ia mencari ruang yang bisa memberinya ilusi kehadiran. Media sosial memberi panggung untuk merasa dilihat, tetapi bukan untuk benar-benar dipahami.”

Ustad Burhan menilai bahwa solusi terhadap kecanduan media sosial tidak cukup hanya dengan membatasi waktu penggunaan perangkat. Yang lebih mendasar adalah memulihkan hubungan emosional yang sehat dalam keluarga, memperkuat dukungan sosial nyata, dan membangun kedalaman spiritual agar seseorang tidak terus mencari validasi eksternal yang tidak pernah memuaskan.

Membedah Kompleksitas Psikologis di Era Digital

Para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian ini bersifat korelasional—bukan penentu sebab-akibat yang mutlak. Namun pola yang ditemukan cukup konsisten: semakin tinggi kecemasan keterikatan seseorang, semakin kuat kecenderungan mereka mengalami kesepian emosional, ketakutan eksistensial, dan pada akhirnya ketergantungan pada media sosial.

Musetti menegaskan pentingnya pendekatan multidimensi dalam menangani fenomena ini. Intervensi psikologis, menurutnya, tidak seharusnya hanya mengatur perilaku online, tetapi juga menyentuh akar emosional—relasi yang rapuh, keterputusan sosial, dan kecemasan akan kebermaknaan hidup.

Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memahami bagaimana teknologi tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga medium tempat manusia kini memproyeksikan kebutuhan terdalam: kebutuhan untuk dicintai, diingat, dan dianggap berarti.

Penutup: Kembali pada Ketenangan yang Hakiki

Artikel riset dan ulasan para peneliti memberi gambaran ilmiah mengenai bagaimana manusia berinteraksi dengan kecemasan batinnya. Sementara itu, refleksi Ustad Burhan Bin Hasan menghadirkan perspektif spiritual bahwa akar dari kecanduan media sosial ada pada kekosongan makna dan relasi yang tidak terpenuhi.

Dunia digital mungkin menawarkan gema kehadiran, tetapi tidak dapat menggantikan kedekatan sejati—baik antar-manusia maupun antara manusia dengan Penciptanya. Pada akhirnya, manusia perlu menemukan keseimbangan: memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan jati diri, serta membangun kehadiran sosial tanpa melupakan kebutuhan ruhani yang jauh lebih mendalam. [***red]


Post a Comment