SalikMediaOnline — Pagi itu, udara di kawasan pesantren Daarut Tauhiid Bandung terasa sejuk, seperti membawa pesan tenang yang tak diucapkan. Di tengah kesunyian yang menenangkan itu, seorang jamaah muda duduk termenung. Wajahnya menyiratkan letih, seolah tengah memikul beban yang tak ia harap. “Saya sudah berusaha, tapi kok hasilnya selalu berbeda dari rencana,” tuturnya lirih. Ia sedang mencari jawaban—atau mungkin, sekadar tempat bersandar bagi hatinya.

Di sinilah pesan Aa Gym menemukan ruangnya. Dalam sebuah tausiyah yang dimuat di laman Daaruttauhiid.org, sang penceramah yang akrab disapa Aa Gym kembali mengingatkan pentingnya satu sikap yang kerap dilupakan orang ketika hidup tidak memihak: ridha.

Belajar Menerima Tanpa Menyerah

Ridha, menurut Aa Gym, bukanlah kepasrahan tanpa arah. Sikap itu hanya lahir setelah seseorang melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh. Ketika segala upaya telah ditempuh, tetapi takdir berkata lain, ridha menjadi pintu yang membuat hati tetap tegak. “Siapa yang ridha terhadap ketetapan Allah, Allah pun akan ridha kepadanya,” ucapnya seperti dikutip Mediaislam.id, Jumat (14/11/2025).

Kalimat itu sederhana, tetapi bagi sebagian orang bisa menjadi penyelamat. Banyak manusia tersandung bukan karena ujian yang berat, melainkan karena sulit menerima kemungkinan bahwa jalan hidupnya tidak selalu mengikuti skenario yang telah ia tulis sendiri.

“Ridha adalah menerima keputusan Allah dengan hati lapang setelah berusaha maksimal,” tambahnya. Kalimat itu seperti tangan yang terulur bagi mereka yang sedang terseok oleh ekspektasi.

Ketika Harapan Berbelok Arah

Setiap orang memiliki kisah tentang harapan yang tak sesuai kenyataan. Ada yang kecewa karena pekerjaan impian tak kunjung didapat. Ada yang patah hati karena rencana pernikahan tak berjalan. Ada pula yang dizalimi keadaan, meski merasa telah berbuat semestinya.

Aa Gym memahami kondisi itu. Namun ia mengajak umat melihat dari jendela yang berbeda. Menurutnya, seorang mukmin sejati tidak menilai kehidupan hanya dari apa yang tampak. Ia menengok ke balik peristiwa, mencoba menangkap makna yang mungkin belum terlihat sekarang.

Dalam tausiyahnya, Aa Gym mengutip QS. Al-Baqarah ayat 216—ayat yang bagi banyak orang menjadi pelipur lara: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu.”

Ayat itu bukan sekadar peringatan, tetapi penjelasan bahwa manusia cenderung menilai berdasarkan rasa. Ketika yang datang pahit, manusia tergesa menyebutnya keburukan. Ketika yang datang manis, ia meyakini itu kebaikan. Padahal, hanya Allah yang tahu ujung dari setiap awal.

Kekecewaan yang Berubah Menjadi Ketenangan

Dalam keseharian, kekecewaan adalah perasaan yang akrab. Ia lahir dari pikiran bahwa hidup seharusnya berjalan sesuai kehendak diri. Namun Aa Gym mengingatkan, manusia tidak memiliki kendali penuh atas dunia. Yang bisa dikendalikan hanya usaha, bukan hasil.

“Kekecewaan sering muncul karena manusia ingin segala sesuatu berjalan sesuai keinginannya,” katanya. “Ketika hati belajar ridha, kekecewaan itu dapat berubah menjadi ketenangan.”

Ridha bukanlah kemampuan yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh melalui pengalaman jatuh bangun, melalui luka yang pelan-pelan dibiarkan sembuh, melalui kesadaran bahwa hidup tidak selalu harus dimenangkan untuk bisa dijalani.

Hikmah yang Terungkap Saat Waktu Bergerak

Banyak peristiwa yang baru terlihat baik setelah jarak memisahkannya dari kita. Ada yang dulu menangis karena tidak diterima di sebuah pekerjaan—namun bertahun kemudian bersyukur karena peluang yang lebih baik justru datang dari jalan lain. Ada yang sakit hati karena kehilangan seseorang—namun baru menyadari bahwa kehilangan itulah yang membawanya lebih dekat kepada pribadi yang lebih matang, lebih kuat, dan lebih memahami makna hidup.

Aa Gym menyinggung hal itu. Baginya, hikmah sering kali datang terlambat. “Apa yang kita anggap musibah, bisa jadi Allah sedang menyelamatkan kita dari yang lebih besar,” ujarnya. Atau mungkin, kata Aa Gym, Allah tengah menyiapkan kebaikan di waktu yang paling tepat—bukan waktu yang kita mau.

Ridha: Ruang Tenang yang Dicari Banyak Orang

Pesan Aa Gym menjadi relevan di masa ketika manusia semakin mudah merasa tertinggal. Media sosial menampilkan kesuksesan orang lain tanpa jeda. Hidup seolah menjadi lomba tanpa garis akhir. Dalam situasi seperti itu, ridha menjadi ruang tenang yang banyak dicari, tetapi tidak banyak dipahami.

Di Daarut Tauhiid, jamaah yang merenung di pagi itu akhirnya tersenyum kecil setelah membaca pesan Aa Gym. “Saya lupa kalau Allah selalu punya rencana,” ujarnya pelan. Langkahnya mungkin tidak langsung ringan, tetapi hatinya mulai menemukan titik tenang untuk kembali berjalan.

Sebab ridha, sebagaimana yang diajarkan Aa Gym, bukan akhir dari ikhtiar. Ridha adalah cara menjaga hati tetap utuh ketika jalan hidup berbelok arah. Ia adalah kesadaran bahwa manusia tidak selalu tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Tetapi Allah—yang menggenggam seluruh takdir—selalu tahu.

Dan di titik itu, ketenangan menemukan rumahnya.[***red]

Post a Comment